Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Wednesday, November 14, 2012

Peraduan Cinta


Tak percaya Marsya membaca surat yang ia terima sepulang sekolah tadi. Surat dari seseorang yang selama ini dia kasihi. Surat dari Faris. Rasa tak percaya pada isi surat itu, membuat Marsya membacanya lagi.

Tuk: Marsya
Di peraduan kasih

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh
Marsya, sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas kebahagiaan yang kamu selipkan dalam hampa sepi kehidupanku selama ini. Tak pernah aku membayangkan bisa mendapatkan kasih sayangmu. Karena kamu adalah salah satu penghuni bumi yang begitu indah dan sempurna. Melalui kecantikan dan keanggunanmu, Sang Pencipta menampakkan keagungan-Nya.
 
Marsya, saat-saat bersamamu tentu adalah hal yang sangat membahagiakanku. Melewati hari bersamamu adalah masa terindah.

Marsya, empat tahun sudah kita bersama-sama. Tanpa mengurangi rasa cintaku kepadamu, kini dengan segenap permohonan maafku, aku katakan kepadamu bahwa sekarang ini aku telah menemukan Cinta yang lain. Cinta sebenar-benarnya cinta. Dan Cintaku yang sekarang ini melebihi cintaku kepadamu.

Marsya, kini dengan cinta itu aku berani tegas mengambil keputusan. Aku tegaskan, mulai sekarang aku mohon kepadamu untuk menjauhi aku. Karena aku takut Cintaku yang sekarang akan cemburu karena aku dekat denganmu. Karena Cintaku sangatlah pencemburu.

Marsya, tahukah siapa cintaku yang sekarang? Dialah Sang Pencipta jagad ini. Dialah Yang Maha Esa. Dan aku tak akan pernah mau melepaskan-Nya lagi karena cinta yang lain. Dan saat ini aku sadar, aku tak bisa bersamamu lagi karena batas-batas cinta yang ditetapkan-Nya.

Marsya, jangan kamu sesali keputusanku ini. Berusahalah untuk dekat dengan Cintaku, maka kamu pun akan dekat denganku. Percayalah, kalau kita ditakdirkan-Nya untuk bertemu dalam kebahagiaan, niscaya itu akan terjadi.
Marsya, sekali lagi maafkan aku.
Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh

 
Dari
Pecinta Sang Cinta
Faris

 
Hati Marsya terasa terbebani seribu gunung. Tujuh langit ia rasai runtuh di atas kepalanya. Dan segenap air samudra seakan menyesaki dadanya. Ia rasakan bagai berada dalam ruang sempit yang menghimpit dan semakin menghimpit. Pipinya terasa dingin oleh aliran lembut yang keluar dari matanya. Dinding kamarnya yang bercat pink dan biru muda, dalam pandangan matanya menjadi kelabu dan menghitam. Dan akhirnya hilang dalam pandangannya.

***

“Marsya, ayo makan dulu sebelum berangkat sekolah,” kata mama yang melihat Marsya turun dari tangga dan langsung berjalan ke arah pintu tanpa mampir ke meja makan.
“Marsya lagi nggak mood makan, Ma. Nanti aja Marsya makannya. Marsya juga lagi terburu-buru. Marsya berangkat dulu ya, Ma!” sahut Marsya sambil menutup pintu.
“Pak Badri, ayo berangkat!” kata Marsya kepada Pak Badri, sopir keluarganya.

Di dalam mobil dalam perjalanan menuju sekolah, pikiran Marsya terfokus pada isi surat dari Faris kemarin. Matanya sembab menghitam karena tak bisa tidur semalaman. Dan tentu saja karena menangis semalaman. Marsya memang sudah melihat gelagat aneh pada diri Faris sejak dua minggu lalu. Faris biasanya selalu menanti Marsya saat pulang sekolah dan akan mengantarnya pulang dengan sepeda motornya. Faris juga sering mengajaknya keluar saat malam minggu, atau mengajaknya bermain ke tempat wisata atau sekedar jalan-jalan ke mall. Tapi mulai dua minggu lalu Faris jarang muncul di hadapannya.

Perubahan Faris ia rasakan setelah Faris berkawan dengan sekelompok anak kelas Bahasa, yang oleh teman-teman Marsya anak-anak kelompok itu sering dipanggil dengan sebutan ikhwan-ikhwan. Marsya pun curiga, mungkin ikhwan-ikhwan itu yang mempengarui Faris.

“Faris kenapa kamu begini?” tanya Marsya kepada Faris suatu kali saat ia berkesempatan bertemu dengan Faris.
“Marsya, maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu. Tapi aku yakin keputusan yang aku ambil ini adalah jalan yang terbaik,” jawab Faris lembut dengan nada datar.
“Tapi Ris, apa waktu empat tahun tidak berarti bagi kamu?”

“Itu waktu yang sangat berarti buatku, Marsya. Waktu yang membuatku bahagia karena kasih sayang dan perhatianmu. Sekaligus waktu yang aku sesali.”
“Apa maksud kamu?”
“Sekarang ini aku hanya berusaha mendekatkan diri kepada Yang Esa, Marsya. Dan dalam pemahamanku saat ini bahwa cara-cara kita mengungkapkan cinta selama ini adalah salah. Selama ini dan saat ini kita tidaklah diperbolehkan untuk bersama-sama karena kita belumlah terikat sucinya tali pernikahan. Yakinlah, kalau kita jodoh, kita akan pasti dipertemukan-Nya nanti dalam kebahagiaan.”

Marsya sudah menganggap Faris adalah belahan jiwanya. Segala cara akan ia lakukan untuk mendapatkan Faris lagi.

“Ris, aku sangat mencintaimu. Aku akan mengikuti jalanmu biar kita bisa tetap bersama. Kamu pengen aku apa? Ikut kajian? Pakai kerudung? Aku akan lakuin itu semua Ris. Demi kamu. Asal kita tidak berpisah,” kata Marsya dengan nada tegas saat memjumpai Faris di taman sendirian.
“Tidak Marsya! Untuk menjalankan perintah-Nya, semua harus dilandasi keikhlasan. Kalaupun kamu akan berubah, berubahlah memang karena Dia, bukan karena aku. Sudah Marsya. Tak baik kita berlama-lama sendirian di sini.”

Marsya seperti sudah tidak mengenal Faris lagi. Faris menjadi pendiam dan lebih sering berkumpul dengan ikhwan-ikhwan kelas Bahasa itu. Faris yang pernah melambungkan mimpinya jauh tinggi ke angkasa, kini seperti menghempaskan dirinya ke dasar jurang terdalam. Mimpi-mimpi hidup bahagia bersama Faris diluluhlantakkan sendiri oleh pujaan hatinya. Faris semakin menjauh. Dan ia semakin terpuruk. Kehidupan Marsya seperti sudah tamat. Game over. The End.

Marsya sudah tak bisa berpikir rasional. Kepergian Faris membuatnya benar-benar jatuh. Nilai pelajaran sekolah turun drastis. Sekolah bagaikan penjara baginya, yang mengekangnya dari keceriaan. Ujian akhir sudah dekat dan ia masih disibukkan dengan kepedihan kesendiriannya.

Akhirnya Marsya bisa lulus meskipun dengan nilai yang pas-pasan. Namun sebaliknya, Faris mampu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Melanjutkan studi ke perguruan tinggi, membuat Marsya tidak dapat bertemu lagi dengan Faris. Marsya ke Bandung, sedang Faris ke Solo. Pikir Marsya, mungkin itu lebih baik buat dia agar bisa melupakan Faris, meski hati Marsya masih merasa berat kehilangannya sosok orang yang pernah memberikan kabahagiaan kepadanya, meski Cuma selama empat tahun.

***

Sudah delapan bulan perpisahan Marsya dan Faris. Marsya tetap tak bisa melupakan Faris. Di tengah-tengah kesibukan kuliahnya, kadang Marsya menangis di sunyi malam ketika mengenang kebersamaannya dulu bersama Faris. Selama ini Marsya yakin kalau Faris adalah cinta sejatinya sehingga ia tidak bisa menerima perpisahan itu.

Suatu siang saat memasuki sebuah warung makan di depan kampusnya, Marsya melihat seorang wanita dengan seorang bayi di gendongannya sedang memesan makanan. Wanita itu memakai kerudung hitam besar. Bukan wanita itu yang menarik perhatian Marsya, tetapi bayi mungil yang digendongnya. Bayi kecil yang lucu. Karena ketertarikannya, Marsya mendekati wanita itu.

“Selamat siang! Boleh saya duduk di sini?” tanya Marsya mencoba berlaku sopan.
“Selamat siang, boleh saja duduk di sini. Silakan!” jawab wanita itu dengan diselingi senyuman.
“Perkenalkan, saya Marsya.”
“Saya Aisyah.”
“Wah, anaknya lucu banget. Cantiknya! Imut-imut, jadi pengen nyubit pipinya! Berapa bulan anak Ibu ini?”
“Anak saya ini sudah berusia tujuh bulan. Eh, sepertinya saya pernah melihat Anda bersama Risma. Anda temannya Risma?”
“Iya, saya teman Risma. Anda teman Risma juga? Wah, kebetulan sekali.”

***

Dari Risma, Marsya akhirnya tahu tentang wanita yang bernama Aisyah yang ditemuinya siang tadi. Dan yang membuat Marsya terkejut adalah bahwa Aisyah masih kuliah, semester lima dan suaminya juga masih kuliah semester tujuh. Marsya berpikir, bagaimana bisa seorang wanita mempunyai suami dan anak saat masih kuliah.

“Mbak Aisyah itu baik banget lho! Dia sering ngajarin aku ngerjain tugas. Semester kemarin dia dapat nilai IP tertinggi. Suaminya, Mas Fahri jadi ketua LDK di kampus kita. Mereka hebat ya, berani nikah saat kuliah. Mereka memang pasangan yang klop banget,” terang Risma dengan penuh semangat.

Ah, sungguh beruntung Mbak Aisyah. Dia sudah mendapatkan belahan jiwanya. Sedangkan aku.... Aku iri dengan kehidupan Mbak Aisyah. Pikiran Marsya melayang mengingat kembali kisah cintanya yang kandas. Dan bening air mata mulai membasahi pipinya.

***

Tiga tahun kemudian.

“Hi...hi... Mas bisa aja mujinya!” kata Marsya dengan suara manja.
“Bener kok. Kamu malam ini adalah bidadari bagiku. Lihatlah dirimu, begitu cantik dan anggun. Tak ada tandingannya di dunia ini,” sahut Faris dengan nada merayu.

Setelah mereka melaksanakan shalat dan membaca doa, keduanya beriring menuju ranjang berkelambu biru muda yang sudah dihias dengan berbagai macam bunga.
“Dik, udah siap?”
“Hm..? Siap apa Mas?”
“Apa nggak pengen cepet-cepet punya anak yang lucu-lucu dan imut-imut?” genit suara Faris merayu.
“Ah, Mas bisa aja!”

Malam itu Marsya merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Ia ingat saat bertemu dengan Aisyah. Kemudian ia mulai diajak Aisyah ikut kajian dan akhirnya Marsya mulai memakai jilbab. Setelah lulus kuliah pun Marsya masih aktif mengikuti kajian. Melalui Aisyah ia dita’arufkan dengan seorang ikhwan. Dan ternyata ikhwan yang dita’arufkan dengannya tak lain adalah Faris, kekasihnya selama empat tahun saat di SMA dulu.

Kalau jodoh memang tak akan kemana, bisik Marsya dalam hatinya sebelum ia menyerahkan segenap jiwa raganya pada Faris, suaminya malam itu. Dan rembulan di laur sana tersenyum tersipu menyaksikan keindahan cinta dua insan yang sedang menyempurnakan setengah agamanya.

 
*Sukoharjo, 21 Maret 2009


Sejenak Mengenang



Jam setengah enam pagi.

Kabut putih merajai pagi ini dengan hawa dinginnya. Dedaunan masih lelap berselimut embun menanti sapaan sang mentari. Sedang sang mentari sendiri masih enggan menampakkan dirinya. Hanya seberkas cahaya yang ia pancarkan di ufuk timur yang menandakan sebentar lagi ia akan menyapa segenap makhluk di sebagian bumi.

Udara pagi ini aku rasai menusuk-nusuk setiap inchi kulitku. Oleh mekanisme kerja syaraf, tusukan-tusukan itu dikirimkan ke otak. Otak yang besarnya hanya dua kepalan tangan ini memberikan respon dengan memberikan perintah pada otot-otot tubuh untuk bergerak-gerak sehingga seluruh tubuh bergetar. Maka, jadilah tubuhku menggigil kedinginan. Begitulah mekanisme organ tubuh dalam menghangatkan diri.

Pagi yang dingin ini adalah pagi yang berbeda bagiku dibandingkan dengan pagi-pagi sebelumnya. Pagi ini aku menyandang status mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dengan ditemani nyanyian deru kendaraan bermotor yang terdengar sumbang, aku melaju di atas Yamaha-ku menempuh perjalanan tiga puluh menit menuju kampus. Pagi ini aku harus tiba di kampus paling lambat jam enam pagi, begitulah instruksi panitia Masta, Masa Ta’aruf.

Tiba di kampus suasana kampus sudah ramai oleh orang-orang yang berpakaian putih hitam. Mereka mahasiswa baru, seperti aku. Aku memakai celana panjang warna hitam dengan ikat pinggang yang juga hitam. Ujung kakiku terbungkus sepatu pantofel hitam yang mengkilap. Kemeja putih lengan panjang menempel di badanku. Tak lupa seuntai dasi hitam menghiasi penampilanku pagi ini. Sungguh gagah nian berpakaian seperti ini. Tetapi kemudian aku teringat dengan pelayan restoran yang memakai seragam dengan corak seperti yang aku pakai ini. Ternyata bukannya menjadi gagah dengan pakaian ini, tetapi tampak seperti pelayan restoran.

“Ayo cepat semuanya berkumpul!”
Aku mendengar sebuah suara dari microphone. Suara dari panitia. Dalam sekejap terbentuklah sebuah barisan yang rapi dari seribu mahasiswa baru. Maka dimulailah Masta hari ini.

*** 

Itulah ingatanku saat awal aku menjadi warga Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kegiatan Masta dilaksanakan selama dua hari kemudian dilanjutkan kegiatan PPA (Pengenalan Program Akademik) selama tiga hari.

Saat ini aku sudah menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa. Aku mulai mengenal teman-temanku satu kelas. Di Universitas tempat aku mencari ilmu ini terdapat beberapa fakultas. Masing-masing fakultas mempunyai beberapa jurusan. Saat pendaftaran aku sempat bingung mau mengambil jurusan apa. Akhirnya kesenanganku pada karya sastra membawaku pada jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Saat pertama kali masuk perkuliahan, aku datang ke kampus tepat waktu. Tetapi sesampainya di kelas, dosennya belum datang. Setelah sekitar dua puluh menit dosennya baru datang. Ini pelajaran pertama yang dapat aku ambil: "Kalau menjadi dosen, kita boleh terlambat".

Saat di bangku kuliah ini keterampilanku membolos mulai tumpul. Sebagai pengalihannya, aku sering terlambat masuk kuliah. Inilah salah satu enaknya kuliah, ada toleransi keterlambatan. Awalnya aku berpikir, dosen saja terlambat, tentu mahasiswa juga boleh terlambat. Bukankah ada peribahasa: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Maka, mulailah aku terkenal sebagai mahasiswa yang telatan. Menurut perhitunganku, selama semester satu aku masuk kuliah tanpa terlambat selama lima kali. Tiga kali saat awal-awal perkuliahan dan dua kali saat ujian.

Ikut dalam organisasi di kampus terbukti memberikan beberapa keuntungan. Salah satunya adalah saat akan menghadapi ujian. Dengan sedikit rayuan kepada kakak tingkat yang satu organisasi aku mendapatkan soal-soal ujian tahun lalu. Dengan mempelajari soal-soal itu aku mampu mendapatkan nilai yang bagus. Ini pelajaran nomor dua: "Kalau ingin mendapatkan nilai yang bagus, dekati dan rayu kakak kelas agar mau mencarikan soal ujian tahun lalu".

Akhir semester pertama ada beberapa minggu liburan. Rasanya bosan di rumah terus. Sebelum masuk semester dua, mahasiswa mengisi KRS (Kartu Rencana Studi). Ribet sekali mengisi KRS. Setelah mengantri seharian, barulah aku mendapat giliran. Tetapi setelah mengisi ternyata salah. Akhirnya aku harus mengulang mengisi KRS lagi beberapa hari kemudian dengan mengantri selama seharian juga.

Sejak dulu aku sering tidur di atas jam dua belas malam. Kebiasaan tidurku itu berimbas pada kondisi badanku yang lemas dan mengantuk pada saat kuliah. Rasa kantuk membuatku tidak bisa menerima materi dengan baik. Obat kantuk paling mujarab adalah tidur. Aku gunakan petunjuk alamiah itu, tidur saat perkuliahan. Rasanya nikmat sekali. Setelah bangun, badan terasa segar sehingga mata kuliah selanjutnya dapat aku ikuti dengan baik dan materi pun dapat nyantol di kepala. Ini pelajaran nomor tiga: "Kalau mengatuk saat kuliah, lebih baik tidur tapi jangan sampai ketahuan dosen".

*** 

Aku bercermin pada perjalananku selama setengah tahun terakhir ini. Ingatan tentang masa-masa kuliah yang telah berlalu masih membayang. Pagi ini aku lanjutkan perjalananku menapaki setiap langkah menuju gelar sarjana. Udara pagi masih tetap dingin seperti dulu. Kabut putih masih sering menyapa menghalangi sebagian pandangan pada alam. Dan suara nyanyian deru kendaraan bermotor masih terdengar sumbang. Seperti hari-hari sebelumnya, aku menempuh perjalanan tiga puluh menit menuju kampus.


Si Anak Mesin

“Kiri, Pak!”
“Ya, STM 1, STM 1, kiri, kiri!”

Langkah kakiku menyusuri trotoar setelah aku turun dari “Budi Utomo”. Pagi ini, seperti biasa, sambil bergelut dengan udara dingin aku berangkat dari rumah menuju tempat yang beralamat di jalan Adi Sucipto nomor 33 di kota Solo. Langkahku membawaku mendekati pintu gerbang yang bercat hitam. Aku disambut oleh gapura setinggi empat meter dengan tulisan keemasan, “SMK NEGERI 2 SURAKARTA”. Dengan langkah santai aku memasuki pintu gerbang. Aku melewati kantor Satpam yang berada di samping pintu gerbang. Ada dua Satpam yang berjaga di sana.

Setelah beberapa langkah aku melewati kantor Satpam, aku mendengar suara seseorang memanggil dari arah belakang.

“Hei, kamu berhenti!”

Aku menoleh ke belakang dan aku dapati Pak Triyanto, salah satu petugas keamanan yang terkenal killer sudah berada di depan mataku.

“Siapa nama kamu?”
“Sukrisno, Pak.”
“Kelas berapa?”
“Tiga, Pak,” aku mencoba menjawab dengan tenang. Aku tahu past ada sesuatu pada diriku yang tidak beres di mata petugas keamanan yang tinggi tegap ini.

“Itu kenapa bajunya tidak dimasukkan?”

Ah, aku baru sadar aku tidak memasukkan bajuku ke dalam celana. Aku harus mencari alasan yang masuk akal.

“Emm, anu Pak, nanti kan jam pertama olahraga, jadi ini bajunya mau dilepas,” jam pertama memang olahraga, alasan yang cerdas.
“Tapi aturannya setiap siswa yang masuk sekolah pakaiannya harus rapi. Soal mau dilepas buat olahraga itu urusan belakangan,” suara Pak Triyatno meninggi.
“Kamu sebagai siswa kelas tiga harusnya memberi contoh yang baik pada adik-adik kelas.”

Aku lihat orang-orang di sekitarku memperhatikanku.

“Maaf, Pak, saya pikir karena jam pertama olahraga jadi tidak apa-apa jika bajunya tidak dimasukkan,” aku masih mencoba berkelit.
“Alasan saja”
Plakk...

Tiba-tiba buku di tangan Pak Triyatno melayang di pipiku. Iya, aku ditampar dengan buku. Pipi kiriku yang terkena tamparan tidak terlalu sakit, tapi ditampar di depan umum lebih menyakitkan dan memalukan.

“Sekarang lepas bajunya!”

Dengan bentakan seperti itu tidaklah membuatku menundukkan kepala. Aku lepas baju OSIS-ku dengan mendongakkan kepala sambil menatap orang yang telah menamparku tadi. Mata petugas keamanan itu menatap tajam padaku.

“Ini Pak!”
“Ambil bajunya nanti setelah pulang sekolah!”

Aku pun pergi meninggalkan Pak Triyatno yang telah menyita bajuku. Orang-orang memperhatikanku. Dengan kepala tegak aku berjalan santai meninggalkan satu episode kelam pagi ini. Jadilah aku hanya memakai kaos selama pelajaran hari ini.

Itulah aku, kadang aku punya pikiran “kreatif” untuk melanggar satu dua peraturan sekolah. Baju tidak rapi, tidak memakai bed sekolah, atau melompati pagar menjadi hiasan keseharianku. Memang seperti itulah tabiat sebagian besar siswa sekolah kejuruan.

Sekolah kejuruan mempunyai porsi yang hampir sama antara pelajaran teori dan praktek. Aku tidak terlalu enjoy dengan pelajaran teori. Aku lebih suka praktek. Aku mengambil jurusan mesin industri, jadi pelajaran prakteknya seperti mengelas, membubut, atau mengefrais. Saat di SMK ini keahlianku membolos sedikit demi sedikit aku kurangi. Bukannya aku taubat, tetapi peraturan sekolah yang membuatku tidak berani terlalu sering membolos.

Saat di SMK aku juga mulai mengenal organisasi. Di sekolah aku tidak mengikuti satupun organisasi. Tetapi aku ikut organisasi di kampung yang bernama “Forum Imtaq wa Rohmah”. Forum Imtaq wa Rohmah yang sering disebut dengan nama IMTAQ adalah organisasi pengurus TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan remaja masjid di dua kelurahan. Jadi IMTAQ berusaha berdakwah kepada anak-anak TPQ dan para remaja. Melalui IMTAQ aku mempunyai teman-teman akrab. Kegiatan IMTAQ diantaranya adalah pengajian santri, kajian remaja, bedah buku, juga muqoyam (kemah).

Kegiatan di IMTAQ yang paling aku senangi adalah muqoyam. Muqoyam diadakan setahun sekali saat liburan sekolah. Terakhir kali muqoyam diadakan pada tanggal 05-07 Juli 2008. Pada muqoyam kali ini aku menjadi panitia. Untuk tempatnya kami memilih di Sekipan, Tawangmangu, Karanganyar. Pesertanya berjumlah tiga puluh orang. Sangat menyenangkan berkemah di pegunungan.

Saat membuka mata pagi hari, hijau pepohonan di perbukitan sudah memanjakan mata. Hawa dingin khas pegunungan diusir dengan push up dan senam pagi. Setelah rasa kantuk hilang, dimulailah acara yang sebenarnya. Muqoyam ini dilaksanakan dengan “keras”. Bukan maksud panitia memberikan contoh kekerasan, tetapi itu untuk melatih kebugaran dan kekuatan serta melatih mental.

Setelah seharian berakrab-akraban dengan kegiatan yang melelahkan, malam harinya adalah kegiatan santai dan istirahat. Begitulah selama tiga hari. Pada hari terakhir, diadakan game yang menyenangkan dan menegangkan. Ranger Patrol namanya. Game ini dilaksanakan pukul tiga dini hari. Inti dari Ranger Patrol adalah peperangan. Tiap-tiap tim mencoba mengalahkan tim lain dengan merampas benderanya. Tentu saja dalam keadaan gelap dan udara dingin. Begitulah pukul tiga pagi kami berteriak lantang menyerukan peperangan sampai adzan Subuh menyeru segenap makhluk.

Begitulah di IMTAQ, banyak pengalaman yang aku dapat. IMTAQ juga yang membesarkan aku. Mendidikku menjadi manusia yang mencoba memahami jati diri, memahami hakekat penciptaan diri, dan memahami arti kebersamaan. Jadi selama sekolah, aku tidak saja disibukkan oleh pelajaran di sekolah, tetapi juga kegiatan IMTAQ.

Saat kelas tiga, bukan les yang menyibukkanku layaknya murid-murid SMU. Di kelas tiga, beban waktu praktek semakin banyak. Salah satunya dengan adanya kegiatan PSG (Pendidikan Sistem Ganda) yang mengharuskan siswa kelas tiga untuk magang di industri selama empat bulan. Aku bersama beberapa temanku magang pada sebuah industri pembuatan traktor di Jogja. Namanya CV Karya Hidup Sentosa, dengan traktor andalannya bermerk “QUICK”. Itulah pertama kali aku hidup jauh dari orang tua.

Setelah selesai magang, kegiatan praktek di sekolah sudah menanti. Sebagai syarat kelulusan, siswa kelas tiga juga harus membuat tugas akhir. Guru kami menentukan tugas akhir untuk kami adalah membuat traktor. Ya, kami harus membuat traktor. Kami satu jurusan membuat tiga buah traktor.

Dengan bimbingan dari guru kami dapat menyelesaikan tugas kami. Jadilah tiga buah traktor yang berdiri megah dan angkuh karya kami. Sungguh hebat kan, anak setingkat SLTA bisa membuat traktor. Traktor kami tak kalah bagusnya dengan buatan pabrik. Saat pameran sekolah, karya kami tersebut dipajang dan tentu saja mendapatkan banyak perhatian dari pengunjung.

Mendekati Ujian Akhir Nasional, aku dan teman-temanku mulai sibuk belajar. Ada juga beberapa temanku yang sibuk mencari bocoran jawaban soal ujian. Memang budaya bocornya soal dan jawaban ujian sudah mendarah daging dalam sistem pendidikan di negeri ini. Aku sendiri mempunyai prinsip, apapun hasilnya aku akan mengerjakan soal dengan jujur. Karena aku tidak terlalu peduli dengan nilai yang tinggi. Masa pendidaikan di SMK berakhir ketika diadakannya acara perpisahan di gedung Saba Buana.

STTB sudah di tangan. Sekarang aku malah bingung, setelah lulus ini aku mau apa. Bekerja atau kuliah.

Tuesday, November 13, 2012

Lelaki Hujan


Pukul 13.35 WIB...

Terik matahari yang setengah hari membakar udara di segenap penjuru sekolahku kini tertutup oleh arakan awan kelabu. Panas sang raja siang itu meninggalkan bekas kunjungannya pada wajah-wajah remaja yang baru pulang sekolah. Wajah mereka tampak lesu, pucat, dan tertekuk karena menahan udara panas setengah hari ini. Itulah hasil kreasi musim pancaroba di awal bulan September. Panas membakar pada sebagian hari dan curahan hujan yang lebat pada sebagian yang lain.

“Kris, sepertinya akan hujan nih. Bagaimana ini?” tanya Joko.
“Nggak apa-apa. Kita nekat aja kalau nanti hujan. Toh, cuma hujan air bukan hujan batu.”

Aku, Joko, dan Mega adalah tiga serangkai pencari ilmu. Kami teman satu desa dan kebetulan juga bersekolah di tempat yang sama yaitu SLTP Negeri 1 Mojolaban. Kami selalu bersama-sama saat berangkat dan pulang sekolah.

“Kris, mulai gerimis nih,” kata Mega sambil menengadahkan tangannya.
“Sudah setengah perjalanan ini. Tanggung kalau kita berhenti.”

Dengan sepeda onthel kami bertiga biasa menyusuri jalan sejauh empat kilometer, jarak dari rumah ke sekolah. Udara dingin pagi hari dan panas terik siang hari menjadi teman akrab bagi kami. Juga butiran air hujan dari langit yang akhir-akhir ini sering menjenguk bumi, tak lupa menyapa kami meninggalkan rasa dingin di seluruh tubuh.

“Hujan deras Kris! Aku mau berteduh dulu,” kata Mega sambil membelokkan sepedanya ke pinggir jalan mencari tempat berteduh.
“Ya sudah, aku duluan ya!”

Hujan hari ini deras. Aku dan Joko, seperti hari-hari sebelumnya, tetap nekat menerobos butiran-butiran air hujan. Tetapi tidak demikian dengan Mega. Sahabatku yang bertubuh jangkung ini lebih suka berteduh menghindari siraman air langit. Mega dan aku berbeda persepsi tentang hujan. Mungkin dia tidak suka dengan hujan sehingga setiap hujan turun, dia akan cepat-cepat mencari tempat berteduh. Sedangkan aku lebih senang bermandikan air hujan daripada harus terpenjara waktu di emperan toko. 

Dengan dihujani beribu air hujan, aku mengayuh sepeda onthel-ku lebih semangat. Aku dengarkan suara gemericik air hujan seperti irama melodi yang menyanyikan lagu riang. Aku ikuti irama khayalan itu dengan bersiul, menikmati rasa dingin karena seluruh tubuh basah kuyub.

Kenikmatan bersenandung bersama air hujan berakhir tatkala aku sampai di rumah dengan disambut oleh omelan ibu. Ibu selalu mewanti-wanti aku agar aku berteduh kalau hujan turun.

***

Pukul 08.15 WIB...
Tom and Jerry menjadi suguhan untukku pagi ini. Segelas nescafe menemaniku di sela-sela senyum geliku melihat tingkah konyol kucing dan tikus dalam sketsa orang Barat itu. Hari ini bukan hari minggu. Ini hari Sabtu. Ini juga bukan hari libur nasional. Hari ini adalah hari aku meliburkan diri. Ya, aku tidak masuk sekolah dengan alasan “malas”. Lebih tepatnya aku membolos karena aku tidak melayangkan surat izin ke sekolah.

Inilah salah satu hobi yang aku asah sejak duduk di kelas dua. Hari Senin dan Sabtu adalah hari favoritku untuk melaksanakan hobiku ini. Hal itu dikarenakan pada dua hari tersebut ada pelajaran yang tidak aku sukai, PPKn dan Fisika serta kegiatan upacara yang aku paling malas mengikutinya. Daripada berpanas-panasan dengan matahari dan berpusing ria dengan dua mata pelajaran itu, lebih nikmat menyeruput
kopi dengan ditemani oleh Tom and Jerry.

Di kelasku tidak hanya aku yang suka membolos. Tri ‘Stro’ Martono, Andi, Arba’in, Teguh ‘Pongge’, Suryadi, Very ‘Bogel’, dan Galih ‘Gendut’ adalah teman-temanku “seperguruan”. Aku bersama mereka adalah langganan hadir dalam ruang BP. Di ruangan itulah kami biasa mendapat “ceramah” dari guru BP tentang pentingnya kedisiplinan dalam belajar. Kemudian kami diwanti-wanti untuk rajin masuk sekolah.

Tri ‘Stro’ Martono yang menjadi ketua kelas, adalah raja dari perguruan membolos kami. Kebiasaan membolosnya sudah tidak ketulungan lagi. Dia ditunjuk menjadi ketua kelas oleh wali kelas kami dengan harapan agar kebiasaan membolosnya berkurang. Tetapi sepertinya tindakan wali kelas kami itu seperti menggarami air laut saja.

Di antara pelajar yang hobi membolos tercipta sebuah persahabatan yang erat. Aku sendiri paling akrab dengan Tri ‘Stro’ Martono. Ada keuntungan tersendiri bisa akrab dengan ketua kelas yang berbadan kekar dan berkulit hitam itu. Setidaknya aku tidak pernah mendapat gangguan dari siswa lain, karena aku punya pelindung yaitu sang ketua kelas yang “memegang” sekolah.

***

Pukul 05.50 WIB...

“Eh, malas banget mau ikut Matematika nih!”
“Yeah, kamu itu kan memang malas sekolah, Ngge!” sahut Galih ‘Gendut’ menanggapi kata-kata Teguh ‘Pongge’.

Pagi-pagi kami sudah ngetem di tempat parkir. Kami, murid-murid kelas 3E mempunyai jadwal jam tambahan yaitu jam ke-0 pukul enam pagi. Menjadi murid penghuni kelas tiga membuat beban belajar kami bertambah, apalagi mendekati ujian nasional. Tiga kali dalam seminggu kami mempunyai jadwal jam tambahan. Mau tidak mau, jam enam pagi kami harus sudah ada di kelas.

Beban jam pelajaran tambahan itu sangat memberatkan bagiku dan sebagian teman-temanku. Masuk jam tujuh saja aku sudah malas, apalagi masuk jam enam. Ketika udara masih dingin menusuk dan suasana masih gelap, harus mengguyurkan air dingin ke tubuh sungguh sebuah aktivitas yang terpaksa dilakukan dan menyiksa dirasakan. Aku berpikir, kenapa sekolah harus berangkat pagi-pagi. Kenapa harus ada jam pelajaran tambahan untuk mendapatkan secuil ilmu. Seperti itulah pikiran seorang pemalas.

“Kita tidak usah ikut pelajaran aja gimana?” kata Arba’in dengan pandangan penuh harap agar usulnya yang “brilian” itu disetujui. Arba’in yang berpostur tinggi memang sering meluncurkan kata-kata provokasi.

“Iya, kita tidak ikut aja. Malas. Mendingan di sini aja sampai jam tujuh. Nanti kita masuk jam tujuh pas pelajaran Bahasa Inggris,” Teguh ‘Pongge’ menyahut memberi secercah harapan pada Arba’in.
“Gimana kalau kamu Kris?”
“Aku idem aja. Tidak ikut pelajaran juga malah lebih enak.”

Itulah satu episode yang kami lakonkan pada pagi itu. Kejadian seperti itu tidak hanya sekali terjadi. Sering guru kali hanya mendapati murid yang perempuan saja yang berada di kelas. Memang begitulah kami, murid-murid kelas 3E. Suatu hari kami, sepuluh orang, merencanakan aksi membolos bersama. 

Pada jam pelajaran Bahasa Inggris, kami sepakat “cabut” dari sekolah. Maka, jadilah kami berada di rumah Tri ‘Stro’ Martono sedang memancing ikan. Tri ‘Stro’ Martono memang mempunyi kolam ikan di rumahnya. Sebagai imbalan atas kelakuan kami tersebut, esoknya guru BP memanggil kami. Jadilah kami duduk takzim di ruangan BP mendengarkan “ceramah” lagi.

***

Pukul 06. 50 WIB...

Pelanggaran kedisiplinan tidak hanya dimonopoli kaum adam saja. Para hawa kelas 3E tidak mau kalah dalam hal ini. Hari Senin, seperti biasanya diadakan upacara. Segenap warga sekolah berbondong-bondong menuju lapangan upacara. Sedangkan di kelas kami sedang terjadi provokasi untuk tidak mengikuti upacara.
“Nanti kan ada ujian praktek olahraga, sekarang kita tidak usah ikut upacara aja. Kan capek kalau harus upacara dulu kemudian ujian praktek olahraga.”

Begitulah provokasi dimulai. Tentu saja aku dan teman-teman “seperguruanku” setuju dengan ide segar itu. Kemudian satu per satu murid laki-laki menyatakan seiya sekata dengan kami. Murid-murid perempuan pun tidak kalah unjuk keberanian, atau mungkin kekonyolan. Karena terbawa teman, satu per satu mereka mengikuti keputusan kami. Maka, kami berdiam di kelas sedangkan warga sekolah yang lain bermandi sinar matahari yang mulai panas.

Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Tindakan kami yang tidak mau mengikuti upacara mendapatkan balasan yang setimpal dari guru BP. Setelah upacara selesai, giliran kami yang merasakan sapaan matahari. Selama satu jam kami satu kelas dipanggang di depan bendera merah putih yang berkibar. Mengetahui hal itu, wali kelas kami berucap, ”Kalian benar-benar kompak,” sambil beliau menggeleng-gelengkan kepala. Mendapat komentar seperti itu kami hanya bisa tersenyum polos layaknya senyuman anak kecil yang tidak mempunyai dosa.

Saat penerimaan raport adalah saat yang menyenangkan. Saat menerima raport, tidak hanya nilai-nilai mata pelajaran yang aku lihat dan aku perbandingkan dengan raport teman-temanku, tetapi aku juga membandingkan banyaknya hari aku tidak masuk sekolah tanpa keterangan alias membolos.

Di antara kami akan merasa bangga jika catatan tidak masuk sekolahnya paling banyak. Arba’in, Teguh ‘Pongge’, dan Tri ’Stro’ Martono serta tak ketinggalan aku, pernah memenangi “kompetisi” ini. Cacatan rekor terbaikku adalah sembilan belas kali tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Dengan rekor seperti itu, maka rata-rata dalam satu minggu aku membolos satu kali. Sungguh rekor yang membanggakan, tetapi tentu saja tidak patut untuk ditiru.

Berbagai tindak pelanggaran yang kami lakukan membuat guru-guru kami merasa khawatir kalau kelas kami akan ada murid yang tidak lulus Ujian Akhir Nasional. Kelas 3E memang terkenal kreatif (baca: bandel). Saat Ujian Akhir Nasional, kelas kami menjadi kuda hitam. Tak ada yang menjagokan kami untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Bahkan guru-guru ada yang memprediksi kalau di kelas kami akan ada murid yang tidak lulus.

Kuasa Tuhan memang tak terbatas dan kehendak Tuhan tiada yang tahu. Saat pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kelasku lulus semua dan lebih mengejutkan lagi kelasku mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan kelas lain. Sungguh tak dapat dipercaya.
Guru-guru kami bertanya-tanya, “Kok bisa ya?”


Sahabat Merah Putih

Hari masih pagi. Matahari belum muncul menampakkan sinar kemerahannya. Embun pagi pun masih asyik bersemedi di atas permukaan dedaunan. Burung-burung liar masih bermalas-malasan di dalam sarangnya. Udara dingin masih menusuk membekukan setiap persendian.

Dengan wajah lesu dan jalan sempoyongan aku menuju kamar mandi menunaikan hajat rutin setiap pagi. Tusukan seribu jarum pada setiap inchi kulit, aku rasakan saat menyiramkan segayung air di atas kepala. Brrrr...dingin. Hari ini ada pelajaran olahraga, jadi aku harus berangkat lebih pagi. Celana dan kaos olahraga warna biru sudah menanti untuk aku pakai.

“Le, ayo sarapan dulu!” kata ibuku sambil menyodorkan sepiring nasi yang masih mengepulkan asap.
“Tidak sempat Bu, ini lagi terburu-buru kok,” kataku sambil mengencangkan tali sepatu sebelah kiri.
“Biarpun terburu-buru tapi tetap harus sarapan dulu.”

Aku ambil sepiring nasi itu dan aku ambil telor dadar di meja. Aku tidak suka dengan sayur. Sepiring nasi hangat dan telor dadar, itulah sumber energi yang melalui kerongkonganku setiap pagi.

Setiap Jumat ada pelajaran olahraga. Gurunya adalah Pak Parmin. Aku senang dengan guru yang satu ini. Beliau sering mengeluarkan candaan saat mengajar. Saat olahraga praktek seperti sepak bola atau kasti, beliau juga ikut bermain. Sepak bola merupakan olahraga favorit bagiku dan teman-temanku. Kami biasa bermain sepak bola di lapangan di daerah padang rumput.

Sewaktu kelas empat SD, sekolah kami yang kekurangan ruang kelas, menempatkan kami dalam gedung Dharma Tirta untuk proses belajar mengajar. Sekolah semacam SD Negeri 1 Pandeyan yang berada di desa memang tak akan mengharapkan bisa membangun ruang kelas tambahan karena terkendala masalah yang klasik, yaitu dana.

Gedung Dharma Tirta tempat kami belajar dikelilingi oleh sawah dan ladang. Hal itu membuat suasana belajar menjadi tenang dan nyaman. Tidak ada suara teriakan anak kelas lain, tidak ada suara tangisan anak perempuan, dan tidak ada suara lonceng. Yang menemani kegiatan belajar adalah suara burung emprit atau burung prenjak yang sesekali hinggap di atas atap. Juga suara dari kejauhan, teriakan petani yang mengusir burung-burung yang memakan padinya yang telah menguning.

Sepetak sawah petani pernah kami jadikan tempat praktek. Ada pelajaran muatan lokal Pertanian dan prakteknya adalah menanam padi. Jadi kami anak-anak desa yang sudah terbiasa bergumul dengan lumpur sawah tidak merasa canggung menanam padi. Bahkan hal itu adalah sebuah kesenangan dalam belajar bagi kami yang memakai seragam merah putih.

Musim hujan adalah masa yang menyenangkan. Aku dan teman-teman SD maupun teman desa biasa bermain sepak bola di sore hari. Ketika hujan mulai turun, kami akan tetap bermain tak mempedulikan pakaian basah dan lapangan mulai berlumpur. Hal itu adalah sebuah kesenangan tingkat tinggi bagi kami.

Masa yang tak juga kalah serunya adalah saat bulan Ramadhan tiba. Saat bulan Ramadhan aku sering tidur di masjid. Bersama dua orang temanku, Andi dan Edi, aku biasa mengisi malam-malam Ramadhan di dalam masjid. Bukan untuk i’tikaf memperbanyak amal ibadah, tetapi hanya untuk berkumpul dan tidur bersama di masjid.

Terkadang kami juga menginap di rumah salah satu dari kami. Yang paling aku senangi adalah menginap di rumah Andi. Orang tua Andi adalah pedagang buah, jadi berada di rumah Andi serasa berada di istana buah. Dan kami pun menghabiskan malam dengan menonton televisi atau bermain kartu sambil mengisi perut kami dengan berbagai macam buah.

Saat tiba dini hari, kami keliling desa membangunkan orang-orang yang akan membuat masakan sahur dengan memukul-mukul alat seadanya seperti bambu, botol, atau ember sambil berteriak, “Sahur...sahur...”. Udara dingin tak menyurutkan langkah kami berjalan setapak demi setapak melewati satu per satu rumah penduduk. Meskipun bau mulut menyengat hidung, suara yang keluar tetap lantang menggema di segenap sudut desa. Kegiatan seperti itu banyak didukung oleh warga desa. Kalau semalam saja kami tidak berkoar-koar, mereka akan bertanya-tanya. Mungkin karena itulah sebagian dari warga merelakan mangga mereka kami petik tanpa meminta setiap malam.

Dalam malam-malam bulan Ramadhan, buah manggalah yang paling sering menemani kami sebagai teman bergadang. Kami biasa memetik mangga tetangga tanpa meminta. Pernah suatu kali aku celaka saat memetik mangga dari pohon milik tetangga.

“Ayo kamu saja yang memanjat pohonnya,” kata Edi.
“Kenapa harus aku?” sahutku, “Kamu saja yang badannya kecil.”
“Kamu kan yang paling jago memanjat pohon Kris.”

Akhirnya aku pun memanjat pohon mangga itu. Karena sering memanjat pohon, aku tidak merasa kesulitan untuk mencapai dahan pohon yang banyak mangganya. Saat aku mengulurkan tanganku untuk memetik sebuah mangga yang terlihat matang, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang bergerak cepat di balik dahan. Aku kaget. Karena kagetnya, aku tersentak. Dan tahu-tahu aku sudah berada di bawah. Aku merasakan pergelangan kakiku sakit.

“Heh, kenapa Kris? Kenapa kamu bisa jatuh?” tanya Andi.
“Aduh, kakiku sakit nih! Tadi aku kaget melihat sesuatu yang bergerak di sana. Aku nggak tahu itu hewan apa.”
“Ayo coba kita cari tahu apa yang kamu lihat”

Aku dan teman-temanku melemparkan pandangan menyusuri tiap-tiap dahan dan daun pohon mangga itu. Aku tak dapat melihat apa-apa selain coklatnya kulit kayu dan hijaunya daun.

“Eh, itu lihat yang di sana itu. Yang warnanya coklat itu,” kata Andi sambil menunjuk salah satu dahan pohon.
“Mana, mana?”
“Eh, iya itu. Wah, ternyata itu bunglon.”
“Iya bunglon. Pantas susah nyarinya. Warnanya coklat seperti kayu itu.”
“Oh, bunglon ya. Aduh, kakiku tambah sakit nih!” kataku sambil memegangi pergelangan kakiku yang terasa makin sakit.
“Bisa dipakai buat jalan nggak?”

Aku mencoba berdiri dengan berpegangan pada pohon mangga. Aku pijakkan kaki kiriku ke tanah dan aku lepaskan peganganku pada pohon. Seketika itu juga rasa sakit dan nyeri yang amat sangat menjalar di sekitar pergelangan kakiku dan rasa nyeri itu merambat sampai ke paha. Aku pun duduk kembali sambil meringis mengelus-elus kakiku.

“Sakit banget nih! Aku nggak bisa jalan.”

Akhirnya aku pun pulang digendong oleh Andi. Sesampainya di rumah, setelah aku ceritakan kejadian itu kepada ibuku, ibuku hanya bilang, “Lain kali hati-hati ya Le!”

Lebaran adalah saat yang ditunggu-tunggu olehku dan oleh orang-orang desa lainnya. Saat lebaran, tiba-tiba saja orang-orang menjadi murah senyum dan baik hati. Para orang tua membelikan pakaian baru untuk anaknya. Sebagian dari mereka memberikan bungkusan gula-teh kepada saudara yang lebih tua. Uang berterbangan di desa dalam bentuk pakaian baru dan berbagai makanan. Sejenak, desa menjadi hidup, ramai, dan bergairah.

Orang-orang membuka tabungan mereka demi kesenangan yang hadir hanya satu kali dalam satu tahun itu. Lebaran, sebuah masa yang membangkitkan roh konsumtif pada tiap-tiap jiwa warga desa. Kaya, miskin, laki-laki, perempuan, tua, ataupun muda ikut larut dalam budaya yang merakyat ini. Dan tentu saja, para pedagang yang meraup untung segudang karena meladeni keinginan setiap orang yang tidak terbendung.

Setelah lebaran, semua akan kembali seperti sedia kala. Orang-orang tua kembali ke sawah, para perantau kembali ke daerah rantauan, dan anak-anak desa kembali bergulat dengan lumpur di sawah atau mengejar burung di lapangan. Tetapi ada yang berbeda dengan wajah anak-anak itu. Mereka terlihat ceria. Tentu saja mereka ceria, karena di rumah mereka mempunyai uang yang banyak dan pakaian baru. Aku adalah salah satu dari anak-anak itu.

Saat yang paling menentukan di SD tentu saja saat ujian nasional. Tiba-tiba para siswa menjadi rajin belajar dan rajin shalat. Para orang tua menjadi lebih memperhatikan kegiatan belajar anaknya. Demam belajar melanda seluruh sekolah. Semua dilakukan oleh mereka untuk mendapatkan selembar surat sakti. Selembar surat yang menentukan belajar siswa selama enam tahun. Selembar surat yang membedakan orang antara orang pintar dan orang bodoh.

Berbeda dengan mereka, aku malah merasa malas belajar saat mendekati ujian. Aku malah kadang tidak masuk sekolah kalau sedang benar-benar malas. Aku tidak terlalu takut dengan ujian sebagaimana kebanyakan orang yang mendewakan ujian sehingga mereka merasa takut dan memujanya sebagai jalan untuk menjadi orang pintar dan sukses. Hari-hari ujian aku lewati seperti hari-hari biasa. Malah terasa menyenangkan karena teman-temanku menjadi suka belajar semua.

Saat menunggu hasil ujian, suasana sekolah menjadi terasa menegangkan. Aku sendiri merasa biasa saja karena aku tidak terlalu mengharapkan nilai yang tinggi. Kalau untuk lulus saja, aku yakin aku bisa. Delapan, itulah rata-rata nilai ujianku. Nilai yang wajar menurutku. Menurut perhitunganku, dengan nilai segitu aku akan bisa masuk ke SLTP yang aku harapkan yaitu SLTP Negeri 1 Mojolaban.

Penyerahan Surat Tanda Tamat Belajar dari SD merupakan jembatan bagiku menuju SLTP. Sudah saatnya aku menanggalkan seragam merah putih agar aku bisa memakai seragam biru putih.
 
 

Kenangan Padang Rumput


Suatu pagi yang dingin saat matahari saja enggan menampakkan diri, aku diboncengkan ayahku dengan sepeda melewati rumah-rumah tetangga. Kemudian hamparan sawah terlewati dan padang rumput yang luas yang sempat tertangkap mata yang masih mengantuk ini tertinggal di belakang.

Sampai di depan sebuah rumah yang besar, aku diturunkan dari sepeda. Kemudian ayahku menggandengku berjalan melewati sebuah pagar besi yang berwarna hijau. Di depan rumah besar itu ada sebuah papan putih yang bergambar.

“Pak, itu apa?” tanyaku sambil menunjuk papan putih itu.
“Itu papan nama TK ini. Lha, itu ada tulisannya, dibaca TK PANDEYAN.”

TK Pandeyan, aku ingat-ingat nama itu. Dalam area rumah besar yang kata ayahku bernama TK Pandeyan itu aku melihat sebuah ayunan yang diduduki oleh dua anak pada masing-masing ujungnya. Ayunan itu naik turun. Ingin rasanya aku duduk di ayunan itu, tetapi ayahku masih saja terus menuntunku masuk ke dalam rumah besar hingga ayunan tadi hilang dari pandanganku.

Itu adalah saat pertama aku masuk TK. Kepolosan seorang anak desa membuatku tak banyak bicara kecuali ada yang bertanya. Seorang wanita yang memakai baju putih yang dipanggil “Bu Guru” oleh anak-anak lain tak henti-hentinya mengumbar senyum. Tentu bukan senyum murahan, tetapi senyum yang sangat menyenangkan yang membuatku merasa tidak takut pada dunia baruku hari itu.

Hari-hari berikutnya, aku sudah mulai mengenal beberapa teman. Diantaranya Didik dan Iva. Setiap pagi Didik menghampiriku berangkat sekolah. Lalu kami akan berangkat bersama melangkahkan kaki di jalan-jalan tanah yang belum diaspal. Setelah melewati tanggul rel kereta api, kami tiba di rumah Iva. Aku, Didik, dan Iva kemudian berangkat bersama menuju TK melewati sebuah lapangan yang luas.

Lapangan itu ditumbuhi banyak rerumputan. Sebuah padang rumput yang hijau. Kami biasa bermain kejar-kejaran di padang rumput itu. Kalaupun jatuh tak akan sakit karena rumputnya tebal-tebal. Setelah melewati padang rumput itu kami tiba di tempat tujuan, muara anak-anak kecil di desaku yaitu TK Pandeyan.

Sekolah di TK, apalagi kalau bukan nyanyian yang diajarkan dengan sedikit pelajaran membaca dan menulis. Lebih seringnya menghafal nama-nama binatang. Tentu saja anak-anak usia TK senang melihat gambar-gambar binatang yang ditunjukkan guru.

Saat di TK aku lebih dekat dengan ayahku. Ayahku adalah ayah yang sangat peduli dengan kepalaku. Hal itu terbukti dengan seringnya aku diajak ke rumah seorang laki-laki yang sudah tua yang selalu terlihat dengan gunting dan sisir di tangannya. Di rumah orang tua itu aku didudukkan pada sebuah kursi kemudian orang tua dengan gunting dan sisirnya itu mulai memegang-megang kepalaku. 

Sesaat kemudian rambutku berguguran ke bawah. Ketika pulang dari orangtua itu dengan kepala plontos aku dibelikan permen yang banyak oleh ayahku. Setelah sampai di rumah, aku langsung menuju ke padang rumput menyusul teman-temanku yang sudah bermain duluan. Saat melihatku, teman-temanku tertawa sambil memegang-megang kepalaku. Jadilah kepalaku mainan bagi mereka.

Di padang rumput yang luas itu aku dan teman-temanku biasa bermain. Kejar-kejaran, lempar-lemparan, atau tunggang-tunggangan. Bermain apa saja yang penting kami senang. Saat sore di tempat tersebut orang-orang besar bermain bola. Aku dan teman-temanku menonton sambil teriak-teriak meskipun kami tidak tahu permainan apa yang mereka mainkan.

Kerbau, sapi, kambing, ayam, dan berbagai binatang peliharaan sering hadir mengisi padang rumput itu. Tak lupa burung liar semacam burung puyuh, emprit, atau prenjak menyempatkan diri mampir di sela-sela rimbunnya rerumputan. Burung-burung itu menjenguk padang rumput hanya sebentar karena kami yang melihatnya akan berlari mengejarnya laksana seorang pemburu profesional, padahal yang kami dapatkan hanya sejumput rumput dan nafas yang ngos-ngosan, sedang burungnya sudah mengudara kembali mencari tempat yang nyaman, jauh jauh dari gangguan dari makhluk lain semacam kami.

“Eh, ini aku punya permen. Nanti aku lempar permennya, kalian tutup mata dulu terus kalian cari ya! Yang menemukannya boleh memilikinya,” kata Didik kepada kami sambil memperlihatkan segenggam permen beragam warna di tangannya.

Kami menutup mata. Setelah beberapa saat, Didik mengatakan kalau dia sudah menyebarkan permen di tempat-tempat tersembunyi. Kemudian kami mencari permen-permen itu di balik rerumputan. Tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan permen yang pertama. Warnanya yang mencolok yang sangat kontras dengan warna rumput, membuat permen-permen itu dengan mudahnya ditemukan. Permainan seperti itu memang sering kami mainkan di padang rumput.

Sekolah TK tidaklah meninggalkan sesuatu yang terkenang. Mungkin karena memang kerja otak ini yang belum maksimal sehingga belum bisa merekam dan mencerna kejadian-kejadian di TK. Yang pasti paling aku ingat adalah waktu ayahku datang ke TK kemudian guruku memberikan sebuah buku kepada ayahku.

“Le, nanti kamu masuk SD,” begitu kata ayahku sambil tersenyum. SD. Aku bertanya-tanya apa itu SD. Kemudian untuk apa aku masuk SD, dengan siapa aku masuk SD. Apakah Didik dan Iva juga akan masuk SD. Pernyataan ayahku itu membuatku merasa takut. Takut menghadapi sesuatu yang baru yaitu SD.



Ksatria Kecil dari Desa

“Aaaa….”
Blub… blub… blub…
“Eh, kelelep, kelelep! Tolongin tuh!”

Saat kulemparkan tubuhku ke dalam air, seketika itu juga seolah-olah ada sesuatu yang menarikku ke bawah sampai kepalaku timbul tenggelam di air. Aku coba menghentak-hentakkan kakiku, tapi semakin keras hentakan kakiku, sesuatu yang menarik kakiku tadi juga semakin kuat menarik ke bawah. Aku takut.

Aku melihat teman-temanku yang berada di atas bertingkah layaknya seorang pemain pantomim yang sedang beraksi di atas panggung. Aku merasa ada aliran air melewati kerongkonganku. Aku tersedak dan aku merasa air yang melalui kerongkonganku semakin banyak. Aku semakin takut.

Seperti seorang petani yang dikaruniai panen yang melimpah, atau seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru, begitulah perasaanku saat aku merasakan ada sesuatu yang menarikku ke atas. Ternyata sesuatu itu adalah tangan salah satu temanku yang bernama Didik. Aku ditariknya sehingga kepalaku muncul di permukaan air.

“Haha... Kris, Kris! Makanya kalau nggak bisa berenang nggak usah nyemplung ke kali. Haha...”

Kudengar tawa yang keras dari temanku yang lain yang berbadan subur, Hartanto. Tawa yang menunjukkan kesenangannya itu, terdengar di telingaku seperti suara mesin gergaji. Sungguh tak enak didengar. Dan rasanya aku ingin mendorongnya ke air biar dia tahu rasanya kelelep.
“Heh, emangnya tadi siapa yang menyuruh aku nyemplung dan bilang kalau sungainya dangkal!” sahutku keras setelah aku berhasil mengatur kembali nafasku yang tadi sempat ngos-ngosan.

“Haha... Nggak apa-apa Coy! Yang namanya orang lagi belajar berenang, kelelep sekali-kali itu sudah biasa. Yang penting nggak kelelep terus hilang,” kata Subardi, temanku yang paling tua diantara kami.
“Buat pengalaman aja Coy!”
“Lain kali hati-hati! Sudah sore nih. Ayo kita pulang!”

***

Begitulah pengalamanku belajar berenang di sungai bersama teman-temanku beberapa bulan lalu, dan tentu saja saat ini aku sudah bisa berenang. Tempat tinggalku di desa sehingga merupakan hal yang lumrah kalau anak-anak kecil bermainnya tidak di taman, tidak di supermarket, tidak pula di wahana permainan, tetapi di sungai, di sawah, atau di kebun belakang rumah. Anak-anak desa sudah terbiasa bermandi lumpur sawah, berenang di sungai sambil mencari ikan dan udang, atau berakrab-akraban dengan binatang melata semacam kadal atau ular.

Yang menjadi tempat favoritku adalah sungai yang berjarak lima belas menit perjalanan kaki dari desaku. Kali Samin namanya. Perjalanan mencapai sungai itu melewati sawah-sawah petani yang akan tampak menghijau kala masa pertumbuhan padi dan akan tampak menguning kala masa panen tiba. Aku dan teman-temanku biasa melalui jalur kereta api yang berada di atas tanggul.

Dari atas tanggul itu aku bisa melihat sebuah pemandangan alam yang sangat indah. Hamparan hijau padi dipadu dengan rimbunnya pepohohan di pinggir jalan-jalan setapak. Tampak serumpun pepohonan di kejauhan yang menjadi background dan burung-burung terbang menghiasi langit. Apalagi kalau langit sedang berbaik hati menampakkan keindahan sketsanya dengan kemegahan candik ayunya atau kemewahan pelanginya. Sungguh indah karya Sang Pencipta yang ditampakkan pada desaku.

Petani adalah pekerjaan paling favorit bagi warga desaku, itu pun karena memang wilayah desaku yang banyak terdapat sawah dan tempatnya terpencil. Mranggen nama desaku. Menurut para orang tua, nama itu dipakai karena dulu di desaku banyak orang yang membuat keris yang sering dipanggil dengan sebutan mranggi. Maka jadilah desaku diberi nama Mranggen, yang artinya tempat orang-orang membuat keris. Tetapi sekarang tidak ada orang di desaku yang membuat keris.

Begitupun nama kelurahannya juga diambil dari nama pekerjaan orang-orang yang membuat peralatan dari besi yaitu pandi, maka nama kelurahannya adalah Pandeyan. Kelurahan Pandeyan merupakan lingkup dari kecamatan Grogol yang sebagian besar daerahnya adalah pertanian. Orang tuaku merupakan petani sejati yang setiap hari bergelut dengan dunia belalang, ulat, dan lumpur. Sekali-kali aku juga ikut membantu pekerjaan di sawah seperti ngeblak, dhaut, nyorok, atau sekedar mengantar makanan ke sawah.

Saat panen adalah saat yang ditunggu-tunggu, tidak saja oleh petani tetapi juga oleh kami, anak-anak desa Mranggen. Sudah menjadi tradisi sewaktu akan panen, para petani akan menempatkan beberapa makanan yang dibungkus daun jati pada beberapa tempat di sawahnya. “Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada Dewi Sri,” begitu kata orang-orang tua. Tentu saja makanan-makanan itu menjadi sasaran “operasi” kami.

Kami berlomba berusaha mendapatkan makanan sebanyak-banyaknya. Untuk mendapatkan makanan itu, tak jarang masing-masing kami mengeluarkan jurus sikut sana sikut sini, tarik sana tarik sini. Tak peduli apa yang ditarik, makanan, batang padi, baju temannya, atau celana kolor temannya. Apapun yang terpegang oleh tangan akan ditarik. Setelah selesai “kompetisi” itu, biasanya kami akan membagi rata makanan yang kami dapat. Dan kami akan lari tunggang langgang kalau ketahuan petani yang punya sawah tersebut karena saat kompetisi perebutan makanan semacam itu tak jarang batang-batang padi menjadi korban.

Masa-masa panen memang menyenangkan. Petani akan merasa tenteram karena mendapatkan padi yang melimpah. Tak salah kalau kabupatenku mempunyai slogan “SUKOHARJO MAKMUR”, karena memang para petani hidupnya makmur saat masa panen. Masa-masa itu memang padi sangat melimpah di negeri ini. Saking melimpahnya padi selama beberapa tahun, negeri ini mendapatkan penghargaan swasembada pangan dari FAO-PBB, tepatnya pada tahun 1984.

Sebagai orang desa, kethoprak dan wayang adalah tontonan wajib bagi orang tuaku. Sampai-sampai namaku diambilkan dari nama salah satu tokoh pewayangan. Ayahku mengatakan kalau Sukrisno Santoso yang menjadi namaku diambil dari nama tokoh wayang yang terkenal dengan kesaktian dan kebijaksanaannya yang selalu menjadi pelindung Pandhawa yaitu Prabu Kresna. Sedangkan awalan Su mempunyai arti sesuatu yang baik, serta Santoso mempunyai arti kuat atau tangguh. Sungguh sebuah nama yang mempunyai sebuah harapan yang tinggi.

Sejak kecil aku dikenal anak yang pemberani, begitulah kata orang tuaku. Aku tidak takut kalau keluar malam sendirian untuk ke kamar mandi, karena kamar mandinya berada di luar rumah. Sedang kakakku akan minta ditemani kalau mau ke kamar mandi. Ibu bilang, aku menjadi anak pemberani karena aku dulu dilahirkan pada waktu sekitar jam dua belas malam. Tetapi sebagai anak kecil aku tetap takut dengan mimpi buruk seperti dikejar pocongan atau jatuh dari tempat tinggi. Mimpi buruk memang menjadi hiasan bagi anak kecil.

Di desaku sering diadakan bancakan. Sedangkan ibuku akan mbancaki aku setiap hari Selasa Pon, hari yang merupakan weton-ku, hari kelahiranku. Tepatnya tanggal sepuluh bulan keenam aku dilahirkan, setidaknya begitulah yang tertera di akta kelahiranku. Pada tahun kedua setelah penghargaan FAO-PBB itu aku mulai melihat dunia, lahir dari pasangan Cipto Wardoyo dan Sri Mulyati, kedua orang tuaku. Bagiku merekalah orang tua yang paling baik sedunia.

Kakakku yang laki-laki waktu kecil sering sakit. Sehingga orang tuaku mengganti namanya dari Wahono menjadi Suwarno. Sudah menjadi kepercayaan orang desa kalau mengganti nama akan mendatangkan keberuntungan. Dua tahun selisih umurku dengan kakakku. Sedang kakakku yang perempuan yang lebih tua tiga tahun dari kakak laki-lakiku sejak kecil dididik mandiri oleh orang tuaku karena dia adalah anak sulung. Dia mempunyai nama yang bagus, meski aku tidak tahu artinya yaitu Safitri Nurtiningsih.